Powered By Blogger

Sabtu, 21 Januari 2012

Karena Aku Telah Denganmu

Karena Aku Telah Denganmu
Tian membanting tas nya di atas kasur. Dengan wajah penuh amarah ia menghampiri cermin yang menyatu dengan lemari bajunya. Lalu ia menatap wajah garangnya dengan tajam. “ Hhuaa, salah aku apa sih ? Sampe punya mama kayak gitu banget ?? “ Gigi Tian sampai bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Ingin rasanya ia memukul cermin yang diam terpaku di depannya itu. Tapi ia mengurungkan niatnya karena ia takut mamanya tambah marah kalau tahu kaca lemarinya pecah. Perlahan ia mulai meninggalkan cermin dan menghampiri tas yang tergeletak di atas kasur. Dengan terburu – buru ia merogoh tas itu dan mengambil sebuah handphone. Kemudian jari – jarinya mulai memijit keypad, setelah itu ia menempelkan handphone di telinganya.
“ Halo, Rian. Ini Tian. Aku mau minta maaf, atas perilaku mama tadi, kamu nggak marah kan ? “ Suara Tian terdengar begitu khawatir.
“ Nggak apa – apa. Aku ngerti, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu Tian. Besok temuin aku di kantin sekolah pas istirahat ya. “ Sahut Rian di seberang sana.
“ Iya, makasih banyak Rian. Met malem. “ Tian mengakhiri pembicaraan dengan senyuman manis di bibirnya. Ia jadi tidak sabar menunggu hari esok untuk mendengar apa yang ingin Rian katakan.
“ Tian, bangun Nak. Udah jam lima, solat subuh dulu terus mandi. “ Bu Gina mengetuk pintu kamar Tian untuk melakukan ritual kesehariannya, membangunkan putri semata wayangnya itu. Dengan malas Tian membuka matanya dan perlahan bangun dari tempat tidur. Semalaman bahkan sampai jam lima ini, ia tidak bisa tidur nyenyak gara – gara memikirkan perkataan Rian, jadi ia bisa bangun dengan mudah. Tapi ia tidak menjawab panggilan mamanya, karena ia masih merasa kesal dengan kejadian kemarin. “ Tian, ayo dong! Kamu masih marah sama mama ? Kalo iya, lanjutin ntar aja deh, sekarang kamu keluar dulu terus ke kamar mandi ya, kalo udah siap mama tunggu di meja makan. “ Bu Gina melangkah meninggalkan kamar Tian menuju dapur dan mulai menyiapkan dua potong sandwich dan dua gelas susu. Tak lupa ia menyiapkan semua perlengkapan yang harus ia bawa ke kantor hari ini. Begitulah kesehariannya.
Semenjak suaminya meniggal saat Tian berusia 2 tahun, bu Gina harus bekerja keras menjadi seorang wanita karir. Kini sudah empat belas tahun ia mengelola sebuah butik di Jakarta Selatan, dan alhasil kehidupan sulit yang ia rasakan beberapa tahun silam telah sirna.
Tian melangkah keluar kamar dengan pakaian seragam SMA yang rapi. Saat melewati meja makan, langkah Tian tidak terhenti. Ia sama sekali tidak menoleh ke mamanya yang sudah duduk manis menunggunya. “ Tian, tunggu! “ Bu Gina mencoba menghentikan putrinya. Tian pun mau tidak mau menghentikan langkahnya. “ Mama kan udah bilang, kalo kamu masih marah gara – gara kejadian kemarin, nanti aja dilanjutinnya. Sekarang kamu harus sekolah dan mama harus kerja. Nggak ada waktu buat marah – marahan. Semarah apapun kamu sama mama kamu harus tetep sarapan sebelum sekolah, toh kalo kamu sarapan bukan mama yang untung, tapi ya kamu sendiri. “ Bu Gina memberikan petuahnya dengan intonasi yang jelas ( diiringi alunan biola yang menyayat hati ). Dengan muka penuh kekesalan karena kalah argumen, Tian membalikkan badannya dan duduk di samping mamanya. Ia lalu mengambil satu sandwich dan mengunyahnya dengan cepat. Untuk mempermudah mencernanya, ia pun dengan cepat meminum susu yang ada di hadapannya. “ Jangan buru – buru, belum telat kok. Ntar kesedak, mama juga yang repot. “ Bu Gina berkomentar sambil mengunyah sandwichnya dengan santai. Tian semakin geram, ia malah mengunyah makanannya lebih cepat. “ Ini mama nggak ada rasa bersalahnya sama sekali, keseell!! “ Teriak Tian dalam hati terdalam.
Seusai sarapan, sepasang ibu dan anak itu masuk ke mobil dan meluncur meninggalkan rumah mereka dengan ekspresi wajah yang jauh berbeda.
“ Oke, udah sampe. Ntar kamu mau dijemput jam berapa ? “ Tanya bu Gina sambil menatap wajah putrinya yang masih kusut. Tian tetap tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia membuka pintu mobilnya dan keluar begitu saja tanpa berpamitan. Tapi, baru saja ia mau menutup pintu mobil, bu Gina tiba – tiba membunyikan klakson keras – keras. “ Ma, apa – apaan sih ? “ Tian semakin kesal, ia menundukkan kepalanya ke dalam mobil sambil menutup telinganya yang pengang. Bu Gina melepaskan tangannya dari klakson dan menatap wajah putrinya dalam – dalam. “ Beginilah reaksi mobil bila ingin mengingatkan orang di depannya yang melakukan kesalahan untuk minggir dari tengah jalan, begitu juga yang dilakukan mama bila ingin mengingatkan anaknya yang melakukan kesalahan untuk minggir dari emosinya. “ Bu Gina tersenyum dengan bijaksana. Tian menyerah, ia memang tidak akan bisa menang melawan mamanya yang satu ini. “ Iya, Ma. Aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum. “ Kata Tian sambil mencium tangan mamanya. “ Wa’alaikumsalam warahmatullah.., hati – hati Nak. “ Bu Gina membalas salam putrinya. Setelah ritual berpamitan selesai, Tian segera masuk ke sekolahnya dan bu Gina pun menancap gas mobilnya menuju butik.
Tian merasakan hawa yang tidak nyaman semenjak kakinya melangkah melewati gerbang sampai ia duduk di atas kursinya sekarang. Seakan – akan semua mata teman – temannya tertuju padanya dengan pandangan mengejek. Ia tahu, pasti ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin saat pesta ulang tahun Rian. Hatinya pun sebenarnya juga kesal dan dongkol atas kejadian kemarin itu, dan semua itu adalah berkat mamanya.
“ Hey, Ti. Mama lu kok nggak ikut masuk ke kelas ? “
“ Wah, lu parah Boy, kalau mamanya Tian masuk kelas bisa diceburin kita atu – atu. “
“ Hahaha ... “ Suara ejekan membahana di seantero kelas. Ingin rasanya Tian menyumbat telinganya dengan sesuatu agar tidak mendengar semua ejekan menyakitkan itu. Belum selesai kata – kata ejekan itu terlontar, tiba – tiba Tian di datangi serombongan wanita – wanita berambut panjang dengan gelang yang seragam melingkar di pergelangan tangan mereka. Gelang itu bertuliskan “ We Love, We Like, Our Rian. “ Tian serasa mau muntah setiap kali melihat dan membaca tulisan itu.
“ Heh, lu Tian kan ? “ Tanya salah seorang diantara mereka.
“ Iya, ada apa nyari aku ? Rian lagi nggak sama aku. “ Jawab Tian santai.
“ Aku ? Heh, nggak usah sok manis deh lu! Mending lu cepetan ikut kita. “ Kata perempuan itu sinis sambil menarik tangan Tian. Dengan terpaksa akhirnya Tian mengikuti segerombolan makhluk – makhluk itu.
Di toilet wanita yang sepi, Tian diseret oleh segerombolan wanita bergelang itu dan di pojokkan. “ Langsung aja ya, kita mau jujur. “ Kata perempuan yang tadi membentak Tian di kelas. Tian mengangguk setuju, ia seperti seseorang yang akan mendengarkan curahan hati sahabatnya.
“ Sebenernya, kita sebagai fans klub basket sekolah, dan juga fans our Rian nggak pernah setuju pas our Rian nyatain kalo dia jadian sama lu! Dan akhirnya kata – kata pertidaksetujuan kami terbukti dengan terkuaknya kejelekan yang selama ini lu tutup – tutupin. “
“ Sebentar – sebentar, aku mau lurusin sesuatu. Rian itu namanya Rian Bagaskara, bukan our Rian. Dan satu lagi, aku nggak pernah nutup – nutupin sesuatu apalagi kejelekan dari Rian. “
“ Halah, nggak usah boong lagi di depan kita. Nggak ada gunanya. Kalo bukan kejelekan terus apa namanya kejadian kemarin malam pas ulangtahun our Rian ? “ Salah seorang diantara mereka menyangkal pembelaan Tian.
“ Kita tahu lu sebenernya punya niat buat mempermalukan our Rian kan ? Makanya kemarin itu lu nyuruh nyokap lu buat nyeburin our Rian ke kolam di depan teman – teman dan kita semua. Sebenernya lu punya perasaan nggak sih ?? “ Salah seorang diantara mereka juga ikut membantu memojokkan Tian.
Tian bingung harus menjawab apa. Sebenarnya dia juga sangat menyesal dan merasa bersalah. Tian semakin bingung saat melihat personil Rian fans club itu menangis tersedu – sedu.
“ Mama...!! “ Teriak Tian dalam hati.
*****
Tian melangkah dengan gontai menuju kelas. Ia benar – benar tidak berani menemui Rian saat ini. Ia masih sangat malu dan merasa bersalah terhadap kekasihnya itu.
“ Heh, Ti. Lu darimana aja sih ? Gue nyariin lu dari tadi tau. “ Febri, satu – satunya sahabat Tian berhasil membuat Tian terlonjak kaget.
“ Eh, kamu Feb. Ngagetin aja sih. “ Tian agak kesal.
“ Maaf, abisnya lu lemes banget. Padahal kan pak Agus kesayangan lu itu lagi ngajar di depan. Kenapa ? Masih mikirin Rian ? “
“ Ya iyalah, aku ngerasa bersalah banget nih. Emang mama tuh keterlaluan banget. “ Tian mencengkeram kertas yang tergeletak di atas mejanya.
“ Emm, tapi Ti kalo menurut gue nyokap lu nggak salah – salah banget kok. “ Kata – kata Febri berhasil membuat Tian menoleh dan menatap Febri dengan heran.
“ Maksud kamu apa ? Jelas – jelas kemarin itu dia nyeburin Rian ke kolam di depan kita semua dan di hari ulangtahunnya. Kalo kamu jadi Rian apa kamu nggak kesel, nggak malu ? “
“ Kalo gue jadi Rian, gue nggak akan ngelakuin hal yang ngebuat nyokap lu kesel dan akhirnya nyeburin gue ke kolam. “ Sahut Febri santai. Tian mengernyitkan keningnya mendengar jawaban logis temannya itu.
“ Tapi, apa haknya coba mama marah ? Rian itu kan pacarku, trus dia cuman mau nyium pipi, nggak lebih. “ Tian masih mencoba membela Rian.
“ Haknya mama lu karena lu lebih dulu sama dia di dunia ini sebelum sama Rian. “
Tian tercekat. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Febri. “ Maksud kamu mama cemburu ? “ Tanya Tian polos.
“ Maksud gue, mama lu nglakuin semua itu karena dia pengen yang terbaik buat lu. Dan pada saat dia liat Rian mau nyium pipi lu di depan umum, menurutnya itu bukanlah hal baik buat lu, jadi dia nyeburin Rian dan narik lu pulang. “ Jelas Febri sambil mencatat rumus fisika dari pak Agus.
“ Feb, gimana bisa kamu paham banget tentang perasaan mamaku ? Bukannya setiap anak itu harusnya kayak aku, nggak suka kalo urusannya terlalu dicampuri orangtua ?! “
Febri meletakkan pulpennya dan menatap Tian dengan serius. “ Gue tau, karena perasaan semua ibu itu sama, perasaan mama lu itu sama dengan perasaan almarhumah ibu ke gue. Dan satu lagi Ti, nggak semua anak itu nggak mau dicampuri urusannya sama orangtua. Justru gue pengen banget urusan gue dicampuri sama orangtua, tapi sayangnya gue nggak seberuntung lu. Meski nyokap lu wanita karir, dia nggak pernah lupa sama keadaan lu, beda banget sama bokap gue yang cuman bisa nyari duit dan duit. “
Tian melongo. Air matanya hampir menetes mendengar perkataan Febri. Baru saja Tian ingin memeluk sahabatnya itu, tiba – tiba terdengar suara menggelegar dari depan kelas. “ Tiaann, kerjakan soal nomer tiga! “
Bel istirahat berbunyi tepat saat Tian berhasil memecahkan masalah fisika di soal nomer tiga itu. “ Iya, jawaban Tian itu benar. Silahkan dicatat anak – anak. Saya rasa, pelajarannya cukup sampai di sini, kalian bisa istirahat. “ Kata pak Agus sambil melangkah meninggalkan kelas.
Tian segera menghampiri Febri Setelah pak Agus keluar kelas. “ Feb, menurut kamu aku harus gimana ? “ Tanya Tian panik.
“ Gimana apanya Ti? Udah selesai kan soalnya ? “ Febri masih belum menangkap maksud pertanyaan Tian.
“ Ih, bukan itu. Kemarin aku janji mau ketemu sama Rian di kantin pas istirahat buat ngomongin soal kejadian kemarin. “ Jelas Tian.
“ Lha terus ? Temuin aja Ti. Biar clear juga masalahnya. “ Sahut Febri.
“ Masalahnya aku belum berani ketemu dia Feb, aku mohon kamu mau temenin aku ya, please.. “ Pinta Tian dengan segenap jiwa dan raga.
“ Hmmhh, iya deh iya. “ Febri menyerah. Dengan senyuman lega Tian pun segera menarik tangan Febri dan berlari ke kantin.
Dengan penuh rasa ragu, Tian menghampiri Rian yang sedang duduk bersama teman – temannya. Melihat kedatangan Tian dan Febri, Rian segera bangkit dari tempat duduknya dan menggandeng tangan Tian ke meja sebelah. Febri pun melepaskan genggaman tangan Tian yang dingin dan membiarkan sahabatnya itu berbicara empat mata.
“ Ti, maaf aku harus ngomong ini sekarang. Tapi, ini udah jadi keputusan terakhir aku, menurutku ini yang terbaik buat hubungan kita. “ Rian memulai pembicaraan.
“ Nggak Yan, aku yang salah. Kalo kamu marah dan mau maki – maki aku, nggak apa – apa kok. “ Tian masih menundukkan kepalanya.
“ Bukan, aku nggak mau maki – maki kamu atau marah sama kamu. Aku cuman mau ngomong kalo sebaiknya kita,, ( jreng jreng ).., putus. “ Rian akhirnya menyatakan niatnya. Bagai dijatuhi bom hiroshima, hati Tian hancur berkeping – keping. Tak terasa air matanya mengalir. Ternyata inilah perkataan yang sejak kemarin malam ia pikirkan sampai tidak bisa tidur, ternyata ini. Dada Tian begitu sesak dan hampir meledak.
“ Ti, kamu nggak apa – apa kan ? Aku nggak mau ini jadi keputusan sepihak doang, kita mulai hubungan ini dengan baik, jadi aku mau akhirnya juga baik. “ Rian sok bijaksana.
Tian mengusap air matanya dan mengangkat kepalanya. “ Nggak Yan, aku nggak apa – apa kok. Aku ngerti kenapa kamu bisa memutuskan hal ini. Semoga kamu bisa sukses ya. Dan aku harap kita tetep bisa jadi temen. “ Kata Tian sembari bangkit dari tempat duduknya dan berlari meninggalkan kantin.
Febri melongokken kepalanya mencari – cari Tian, tapi ia tidak menemukan sahabatnya itu. yang terlihat hanya Rian bersama teman – temannya yang asyik main gitar. “ Hh, tuh anak ditinggal beli siomay udah ngilang. “ Febri menggerutu sambil melangkah meninggalkan kantin dengan sebungkus siomay di tangannya.
Sementara itu, Tian terus berlari menjauh dari Rian. Meski mulutnya berkata iya, tapi hatinya sungguh belum bisa menerimanya. Tapi, tiba – tiba langkahnya dihentikan oleh para personil Rian fans club tadi.
“ Tian, abis diputusin ya ? Syukur deh, tapi kita tetep nggak terima lu cuman diputusin, pokoknya lu harus minta maaf sama our Rian di depa kita semua. “ Kata salah seorang diantara mereka.
Tian terdiam, ia mencari celah untuk bisa lewat dari hadangan Rianners ini. Tapi ia tidak bisa menemukan celah sedikitpun. Mereka terlalu banyak. “ Ayo! “ Ajak mereka sembari menyeret Tian kembali ke kantin. Tapi alangkah kagetnya para perempuan personil Rian fans club itu saat mengetahui kalau pujaannya sudah tidak di kantin lagi. Kepala mereka melongok kesana kemari untuk mencari keberadaan sang pujaan. “ Nah, itu dia our Rian! “ Seru salah seorang diantara mereka sambil menunjuk sebuah bangku panjang di bawah pohon di taman sekolah. Tian ikut melihat kesana. Terlihat Rian dan beberapa temannya asyik membicarakan sesuatu. Tanpa dikomando lagi mereka pun menarik tangan Tian menghampiri Rian dan kawan – kawannya.
Tapi, niat mereka untuk memaksa Tian meminta maaf sepertinya harus sedikit tertunda. Karena pembicaraan Rian dan teman – temannya agak sedikit mengejutkan telinga mereka termasuk Tian.
“ Yan, emang bener lu mutusin Tian gara – gara nggak terima sama sikap nyokapnya ? “ Tanya salah seorang teman Rian yang berambut jabrik.
“ Iya, itu salah satunya. “ Jawab Rian santai.
“ Salah satunya ? Trus, alasan lainnya apaan ? Jarang lho cowok bisa dapetin cewek pinter, cantik, tajir kayak Tian. “ Sahut teman Rian yang berkacamata bulat, mirip vokalis peeweegaskin.
“ Percuma aja tajir, pinter, cakep, tapi nggak bisa diapa – apain. Bayangin aja, baru juga mau nyium pipinya, gue udah diceburin. Gimana ntarnya coba ? “ Sahut Rian tanpa rasa bersalah.
“ Hahaha, parah juga lu! “
Tian serasa dibakar saat mendengar perkataan Rian barusan. Tiba – tiba ia sangat merindukan mama yang sedari tadi sudah mendapat perlakuan tidak enak darinya. Tanpa sadar ia segera melepaskan genggaman tangan para fans Rian itu dan melangkah menghampiri Rian.
“ Jadi, itu alasanmu ? Tadinya aku sangat sedih saat kamu mengatakan kata putus, dan tadinya aku juga sangat membenci mamaku. Tapi sekarang, sekarang aku sangat bersyukur kamu mengatakan kata putus itu. Karena berkat hal itu aku sadar betapa sayangnya mama padaku. “ Tian menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh dihadapan Rian.
Semua melongo, bingung. Rian juga tidak bisa berkata apa – apa lagi. Mulut dan lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa menatap Tian dengan penuh penyesalan.
Setelah menyampaikan uneg – unegnya, Tian segera berbalik dan melangkah pergi. Saat ia melangkah meninggalkan taman itu, ia sempat melihat para anggota Rian fans club itu menangis dan melepaskan gelang yang ada di pergelangan tangan mereka. Mungkin kekecewaan yang sama juga tengah mereka rasakan sebagai seorang perempuan.
*****
Bu Gina mondar – mandir di depan pintu rumahnya sambil sesekali melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam, dan Tian belum juga pulang. Tidak biasanya putrinya itu belum pulang sampai selarut ini. “ Apa dia benar – benar sangat marah ya ? “ Bu Gina bertamya pada dirinya sendiri. Ia terus saja mondar – mandir di halaman rumahnya sambil melongok ke jalanan. Kemudian dia duduk kembali di depan pintu rumah. Persis seperti adegan Ji En yang menunggu Leung Jai di drama korea Fullhouse kesukaan mereka berdua.
“ Aha, kenapa nggak nanya Febri ? Aduh, kenapa baru kepikiran ? “ Bu Gina bahagia seperti sedang mendapat wangsit. Dengan segera bu Gina masuk ke dalam rumah dan menelfon sahabat putrinya itu.
“ Halo, assalamu’alaikum Feb. Ini tante Gina. Gini Feb, sampai sekarang Tian kok belum pulang juga ya ? Apa dia bener – bener marah ya ? Kamu tau nggak kira – kira dia dimana ? “ Bu Gina memberondong pertanyaan.
“ Wa’alaikumsalam, nggak kok Tante, ini dia lagi sama saya. “ Jawab Febri singkat.
“ Lho, ngapain ? Ada tugas ya ? Emang kalian ada dimana ? “ Bu Gina penasaran.
“ Oh, nggak kok. Kita baru aja beli sesuatu, ini kita baru aja nyampe. “
“ Nyampe dimana ? “
“ Depan rumah tante. “
“ Ha ? “ Bu Gina langsung meletakkan telefonnya dan berlari keluar rumah. Ia sangat bahagia saat melihat Tian sudah berdiri di depan pintu pagar. Bu Gina pun langsung membuka pagar dan memeluk putrinya itu.
“ Ya ampun Ti, mama kira kamu kenapa – kenapa. Mama minta maaf ya atas sikap mama kemarin ataupun tadi pagi. Mama cuman nggak mau kamu diapa – apain orang. “ Bu Gina tersedu – sedu ( kembali terdengar suara merdu biola ditambah petikan senar gitar akustik ).
“ Nggak Ma, aku yang salah. Gara – gara cowok aku udah rusak hubungan kita yang udah lama banget. Maaf ya Ma, karena aku udah sama mama duluan sebelum sama siapapun di dunia ini. Aku sangat bersyukur Allah memberikan aku seorang ibu seperti mama. “ Kata – kata Tian juga tidak kalah menyentuh. Sebagian kata – kata itu ia pelajari dari perkataan Febri.
Setelah mengharu biru beberapa saat, Tian pun melepaskan pelukan sang mama. Bu Gina sedikit terkejut saat melihat teman – teman yang dibawa putrinya tidak seperti biasanya.
“ Febri, itu siapa saja mereka ? “ Bu Gina bingung.
” Malem Tante, selamat hari ibu ya Tante. Kami dari Mothers Fans Club. Ini hadiah yang dipilih sendiri sama Tian lho buat Tante, taarraa...”
“ Happy Mothers Day.. “
*****